Bamboo Biennale 2016: Workshop Bamboo Biennale.


“Bamboo Biennale” apa yang terlintas dipikiran anda ketika mendengar kata tersebut? Acara bamboo dua tahunankah? Perkumpulan pecinta bambukah? Atau panenb ambu dua tahunan? Ada benarnya tapi bukan itu yang kami dapat. Bagi para penggiat bambu di nusantara acara ini menjadi ajang untuk menuangkan kreatifitas dan kecintaannya terhadap bambu. Puluhan bahkan ratusan pencinta bamboo bertemu di acara ini, berbagi pengalaman menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan bersama, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak peduli menjadi peduli, dan dari yang tidak cinta menjadi cinta terhadap bambu.

Lebih dari 1500 jenis bambu yang ada di dunia ini hanya 91 jenis bambu endemik yang ada di Indonesia. Tak banyak memang, hanya sebagian kecil.Tapi terlepas dari itu semua, bukan berarti kita sebagai warga dari negara yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia ini lantas bersikap acuh terhadap apa yang ada di negara kita ini. Bambu yang selama ini kita kenal hanya sebagai bahan baku kerajinan tangan ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam bahan konstruksi. Hanya perlu tekad yang kuat untuk mengenal lebih dalam mengenai manfaat bambu disekitar kita. Dengan adanya acara ini banyak dari mereka yang awalnya tak peduli mengenai bambu sekarang jadi lebih terampil dalam mengolah bambu menjadi hal yang berguna.






Proses demi proses dijalani oleh puluhan partisipan dari seluruh penjuru nusantara di rangkaian awal acara Bamboo Biennale ini,yaitu Workshop Bamboo Tribe Hope 2016. Acara yang dilaksanakan padatanggal 8-26 Agustus 2016 di Tawangmangu, Karanganyar ini mempunyai empat rangkaian acaraya itu panen bamboo langsung dari hutan: preservasi bambu, pengawetan bambu konvensional dan konservatif; konservasi bambu; serta konstruksi bambu. Dengan bersama-sama para mentor profesional di bidang bambu, kita belajar mengenali dan membiasakan diri dengan material bambu di habitatnya langsung, agar lebih mengenal karakter serta bagaimana cara memperlakukan bambu. Sehingga kita tahu berbagai kemungkinan untuk mengolah bambu dari proses preservasi hingga konstruksi.












Workshop preservasi dan konstruksi dilaksanakan selama tiga minggu yang dibagi menjadi 3 gelombang  yang tiap gelombangnya dibagi menjadi sesi preservasi dan sesi kontruksi. Pada sesi preservasi para peserta diajarkan bagaimana memanen, membibitkan serta mengawetkan bambu. Kemudian pada sesi konstruksi para peserta diajak untuk mempelajari bagaimana karakteristik bambu sebagai kontruksi. Selama acara peserta dan panitia mendapatkan berbagai macam hal postif mulai dari ilmu, pengalamaan, dan juga keluarga baru.





Kontributor Penulis & Dokumentasi Foto:

Dania Nurulhuda,
Mahasiswa Arsitektur Universitas Sebelas Maret. Angkatan 2014.



Arghshitechcure Project

Arghshitechcure Project adalah Sebuah kelompok diskusi kecil yang mencoba memaknai setiap jengkal langkah kehidupan melalui beragam sudut pandang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar