Belajar dari Kesetiaan Sang Samosir




Setapak berjalan di pesisir jalan, menepi di danau dan berbagai bukit. Salam kenal dengan hangatnya dari secuplik kisah sudut kota Medan. ada bagian yang menyentil dari buah manis perjalanan temu karya ilmiah mahasiswa arsitektur 32 Sumut, atau yang sering akrab di telinga para MAI (Mahasiswa Arsitektur Indoensia) acara hajatan terbesar MAI. Dari sini saya mulai mengambil banyak cerita yang menurut saya menarik untuk lebih berjelajah dan berjelajah kembali. Salah satu perjalanan kemarin saya dan sekawanan MAI mengikuti kegiatan mengenal danau toba, samosir lebih dekat. Sempat terheran bahwa dari legenda sampai cerita kekiniannya pun masih saja menarik untuk di ulas.


Keberadaan danau Toba, kalau dari kota Medan bisa ditempuh dalam 5 jam dengan kendaraan bus, mobil bahkan motor akses jalan pun tak susah susah saya rasa, malah rasanya di tiap jalan merasa syukur akan keindahan yang terpaparkan dari danau toba selama perjalanan menuju entrance danau Toba. Sesampainya disana kami diizinkan untuk melihat rumah pengasingan Bung Karno, Syahrir dan Haji Agus Salim. Rumah pengasingan yang kecil di Parapat itu juga menjadi saksi kehidupan para pemimpin Republik yang tidak selalu harmonis. Seperti diakui Bung Karno sendiri, dirinya kerap bertengkar dengan Syahrir. Sayangnya rumah ini tidak begitu dikenal dalam sejarah Indonesia dan ruang dalamnya sulit dirasakan oleh semua kalangan masyarakat umum sebagai situs sejarah karena dijadikan mess peristirahatan pejabat Pemprovsu.

Seharusnya rumah ini bisa dijadikan Museum atau rumah Sejarah Nasional dan tidak dijadikan mess Pemprovsu lagi agar semua lapisan masyarakat khususnya generasi muda leluasa mendapat pembelajaran sejarah dari rumah yang sangat historis dan monumental ini. Melanjutkan perjalanan, tapak demi tapak, seombak demi seombak kita lalui untuk menyebrang di kawasan danau Toba. Banyak teman teman memilih waktu untuk menghabiskannya dengan menikmati angin sepoi Toba tanpa henti, bermanis ria di kamera-selfienya bahkan berenang di kawasan danau Toba, sebuah momen langka dan kapan lagi mungkin dalam fikirnya beromantika ditempat yang seperti terlihat kosong namun banyak menyimpan saksi sejarah, legenda bahkan rahasia di dalamnya.




Oke, saya mulai terbawa pada ekspedisi Samosir di sini kami disambut ramah oleh banyak penjual yang menjajakan makanan hingga oleh oleh khas Batak, Sumatra Utara. Dari sini pun kami dituntut mengenal berbagai budaya Batak, yang awamnya saya tahBatak hanyalah Batak. Sekian. Ternyata dari pedagang pun kami jadi mengerti bahwa Batak pun banyak turunannya, banyak ciri khas yang sudah berbeda beda, mulai terlihat dari corak pakaiannya, furnitur dan macam-macam seterusnya. Tak lupa juga duren khas Medan sebagai keunggulannya pun diperjualbelikan, menikmati disebuah gangAh keramahan yang tak terlupa menurut saya. Di sini tak hanya pakaian dan makanan khas, bahkan pengrajin pun juga berpotensi di pasar, menyenimankan dirinya melalui mini maket rumah-rumah Batak, furniture sampai pada alat musik. Yang menarik saya pada pasar ini bahwa dia masih berminat untuk menjaga kesetiaanya pada sebuah arsitektur. Mulai dari jajaran atap pasar yang menggunakan atap kahas batak dan juga mememelihara dengan baik dalam sebuah branding seni patung si Gale-gale, desa wisata dan museum rumah Batak. Banyak yang membuat saya bergejolak dalam curahan hati sejarah arsitektur disiini.  Ah sekali lagi benar tak terlupakan bila melihat riuh warna warni suku bangsa. Siapa sangka jikalau nenek moyang hidup kembali akan bersyukur memiliki kesatiaan sang cucu-cucunya di Samosir, menjaga dan mengenang dengan setia salah satu kurnia Maha kuasa untuk sekilas tentang budaya Batak.

Tidak habis cerita tentang Pulau Samosir dengan kesetiaanya. Masih kental dengan kebudayaannya, disini kami  terbawa pada patung si gale gale. Patung si Gale gale hadir dalam satu paket bersama dalang tangguhnya, bersama pameran rumah adat Batak dengan detil corak cicak dan warna hitam putim merah menyala, ada juga beberapa kain ulos dan ikat kepala yang khas yang bisa dikenakan oleh pengunjungnya. Patung si Gale gale dimainkan oleh dalang tangguhnya, ia menari dengan tarian khasnya, tari Tor-tor yang seirama dengan musik adat batak pula. Disini saya merasa bahwa dalam suatu ruang arsitektur yang membawa kami mengenal dengan pendekatan kebudayaan. Banyak nuansa yang di hadirkan disini, apalagi kalo bukan dengan hal yang marak yakni selfi. Tapi yang menarik dari jatidiri selfie ini mereka menemukan suatu kebanggaan telah disambut untuk mengenal macam macam kebudayaan Batak dengan kontemporer ekspresi-ekspresi kekinian pula. Dan lainnya lagi bisa juga lho, untuk ikut menari bersama dengan patung si gale gale. Keramahan tamahan sambutan si gale gale ini membuat satu sama lain sama dan tidak ada jarak bagi ‘kita’ dengan persembahannya hal ini yang mungkin tidak akan terlupakan bagi tiap pengunjungnya.



Selepas dari sambutan sambutan yang ada kami mulai menginjakkan kaki pada buah desa pariwisata. Detail per detail desa wisata Tomok Parsaoran belum membuat saya jera untuk lebih tahu apa selanjutnya dan untuk seterusnya. Desa ini menceritakan bagaimana ketokohan, tingkah laku serta peradaban permasyarkatan disana. Bagaimana yang telah malang melintang di hati dan perasaan kita, warga Indonesia bahwa kebudayaan nusantara yang direpresentasikan dalam arsitektur yakni nuansa guyub dan kekeluargaan yang erat didalamnya. 

Saya tertakjub dengan mereka yang benar benar setia masih menggunakan desa tersebut tidak sebagai keeksotisannya namun juga fungsionalnya walau dalam fungsi juga berbeda, mereka menggunakannya sebagai pagelaran seni, seni tari pun juga seni musik yang ada di Batak. saya merasa bahwa nuansa kebudayaan itu masih kental adanya. Melalui tatanan permukimannya yang berpola grid dengan benteng benteng dari kain dan lapangan kosong diantara 2 pola grid yang terbentuk menandakan bahwa ruang tengah atau ruang publik tersebut digunakan untuk saling berinteraksi saling menghidupkan rasa guyub untuk sesama, benteng yang membatasi pun juga begitu adanya untuk menjaga ketat kebudayaan mereka agar tidak terpengaruh oleh luar. Inilah kesetiaan yang saya maksud, bukan sekedar selebrasi namun menganggap ada atau berwujud  untuk sebuah keberlanjutan arsitektur, manusia dan kebudayaan melalui fungsi fungsi kekiniannya. Tetapi ngomong-ngomong ini masih dalam mengupas secara batangnya, dari sini pun membuat saya banyak mengambil hikmah dari kesetiaan mereka bahwa menjaga bukan hanya dalam noktah kata perseteruan namun langkah gerak yang benar-benar andil dalam warna warni nusantara untuk mengukir keromantisan kembali, untuk mempersilahkan satu sama lain membaca kondisi secuplik degub gempita warna nusantara.


Tak habis dari batangnya, disini kami diajak mengulas tentang tokoh tokoh masyarakat dan tetap secara curahan arsitektur juga sampai ke akarnya. mengenang rumah Bolon nyaris tanpa sisa. Saya dan sekawanan disambut dengan sikap penghormatan tuk tuan rumah yang terbilang langsung pada arti filosofis rendahnya pintu masuk, pun juga dengan keberuntungan yang didapat dengan memijaki tangga yang berjumlah ganjil, katanya. Rumah Bolon menceritakan kenangan kenangan masyarakat batak dimana ia bangga telah menenun, memburu, memasak dan menyenimankan dirinya melalui beberapa detail ukiran berseni tinggi yang terpamerkan jelas di dinding Bolon dan sisi ruangnya. Tak habis dari itu, kami terbawa pada duo patung sejoli yang membawa mangkok. Mencurahkan kembali tentang persyaratan pernikahan adat disana untuk menari dengan mangkuk terisi air diatas kepalanya, jika tumpah maka batal untuk mengukir cerita-cerita pernikahan yang indah. Makna dari tidak jatuhnya mangkuk mengisyaratkan bahwa sepasang kekasih tersebut telah matang pikirannya dan siap menjalin sebuah kisah kasih suka duka pernikahan.




Bukan bernostalgia, karna ini hanya kisah yang terdengar dan belum pernah saya jamah sebelumnya. mencoba meruang mengukir keromantisan masa lalu dalam satu wadah arsitektur, walau tidak sedalam mereka mengarungi untuk memberi arti kegiatan yang berdampak pada sosial budaya dalam ruang dan waktu yang berkenaan. Namun setidaknya secara merambat pun juga membaca secercah warna nusantara, yang orang2 berdomisili pun sering kehilangan rasa untuk memilikinya karna kurang  pengenalan dari  lingkungannya. Maka dari itu, syukur bisa singgah dan sungkem padamu, kesetiaan sang Samosir.






Kontributor Penulis & Dokumentasi Foto:

Rabeika Fatimah,
Mahasiswa Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Aditxdreamers

Arghshitechcure Project adalah Sebuah kelompok diskusi kecil yang mencoba memaknai setiap jengkal langkah kehidupan melalui beragam sudut pandang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar