Pulau Panggang: Smells Like Teen Spirit


Sedari Pagi antrean di dermaga Kali Adem, Muara Angke sudah mengular baik dari antrean kendaraan yang hendak masuk untuk parkir di kawasan dermaga maupun antrean pengunjung di loket pembelian tiket kapal. Pemandangan seperti ini lazim ditemukan pada saat weekend tiba,banyak kaum urban Jakarta berbondong-bondong melepas penat dengan mengunjungi pariwisata di Kepulauan Seribu, yang terdiri dari beberapa pulau dengan suguhan atraksi wisata yang banyak pilihan dan bisa disesuaikan dengan budget, meskipun di tengah bulan seperti ini. Dermaga Kali Adem bukan satu-satunya dermaga yang melayani rute pelayaran pariwisata ke Kepulauan Seribu yang ada di Jakarta, masih ada dermaga Marina Ancol.

Ini kesempatan pertama saya mencoba jalur laut, tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Beragam candaan akan mabuk laut pun terlontar dari kawan-kawan serombongan dan dalam perjalananan laut ini terjadi sebuah kesepakatan absurd. Barang siapa yang mabuk laut akan direkam dan diabadikan melalui kamera smartphone. Di lihat dari catatan statistik, tentu saja saya kalah telak, mereka sudah ada yang hampir empat kali menjajal jalur laut pulang pergi dengan kapal penumpang, yang paling sedikit dua kali. Namun nasi sudah menjadi bubur, perlahan kapal meninggalkan dermaga, sayup sayup daratan menghilang dari pandangan, dan tantangan pun resmi dimulai.

Karena pada saat memasuki peron dermaga sudah terlalu siang, kami pun tak sempat memilih tempat duduk yang nyaman. Kapal yang terdiri dari dua lantai ini sudah penuh penumpang, di lantai satu didominasi oleh barang-barang dagangan serta sayuran, sedangkan di lantai dua dipenuhi oleh wisatawan, dan paling parahnya lagi atap kapal di lantai dua hanya sebagian saja, tidak menaungi seluruh lantai penuh Kapal dengan tujuan akhir pulau Pangggang ini mungkin memang dikhususkan untuk mengangkut barang komoditas keperluan sehari-hari, mengingat tujuan kami adalah salah satu pulau dengan permukiman penduduk terpadat di Kepulauan Seribu. Apa boleh buat kami pun bersiap terpanggang oleh sinar matahari di laut Jawa.


"Barang siapa yang mabuk laut akan direkam dan diabadikan melalui kamera smartphone."

Baru beberapa kilometer kapal melaju harus terpaksa berhenti, penyebabnya adalah adanya patroli dari satuan khusus polisi air yang memeriksa kondisi penumpang dan mengingatkan untuk memakai life jacket. Semenjak tragedi bencana kebakaran KM. Zahro Express di perairan teluk Jakarta, polisi air rutin melakukan pemeriksaan demi keselamatan perjalanan. Tak beberapa kapal pun melanjutkan pelayarannya. Matahari merangkak naik seiring perjalanan, dari catatan seorang kawan, kami butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai di tujuan. Namun tak butuh lama lagi kapal mendadak berhenti di tengah lautan. Ombak laut beberapa kali membuat kapal cukup terombang ambing tanpa daya. Terpaan sinar matahari pun semakin terasa, namun sekali lagi, tak butuh waktu lama kapal pun beranjak kembali melakukan perjalanan.

Sepanjang perjalanan rasa kantuk pun tak terhindarkan, namun tidur di bawah terpaan sinar matahari langsung tentu bukan sebuah pilihan yang bijak. Namun angin laut adalah perayu yang cukup handal, mau tak mau tubuh ini rebahan juga di atas lantai kayu yang sesekali bergoyang ke kanan dan ke kiri. Sayup-sayup mencoba terpejam. Entah berapa lama, kapal sudah bersandar di salah satu dermaga yang di ketahui baru sampai di pulau Pari. Akhirnya saya memilih turun dari lantai dua, sekalian untuk buang hajat kecil di kamar mandinya yang berada di buritan kapal. Selesai buang hajat, saya memilih untuk duduk di lantai satu saja, setelah cukup lega karena beberapa penumpang turun di pulau Pari. 

Di lambung kapal ini hajat bobok nyenyak bisa ditunaikan dengan hakiki, selain teduh, angin laut yang cukup kencang menerobos jendela kapal membuat tubuh ini lelap sudah. Tapi tidak, dengan goncangan ombaknya. Saya melirik jarum jam tangan, sudah hampir tiga jam mengarungi lautan namun tak kunjung sampai. Goncangan ombak laut pun mulai mengintervensi kondisi fisik yang menurun, hanya ada jalan satu-satunya selamat dari menjadi aktor mabuk laut yang akan mendadak viral dikalangan rekan-rekan rombongan. Apalagi kalau bukan tidur.





Perkara tidur sendiri adalah pantangan bagi sebagian mahasiswa di jurusan teknik Arsitektur, apalagi kalau sudah mendekati dateline ujian semester. Beberapa merelakan begadang berhari-hari bahkan sampai tidak tidur sekalipun hanya untuk menyelesaikan tugas perancangan. Lebay banget, biasa aja (sombong hahaha). Namun, bakat tidur di segala medan inilah yang menyelamatkan saya dari jackpot hasil metabolisme tubuh. Saya mampu terlelap sampai kapal bersandar di dermaga pulau Pramuka. Kapal berhenti sekitar sepuluh menit, banyak penumpang yang turun di pulau ini, saking lamanya berhenti, serta wara-wirinya penumpang membuat saya terbangun.

Sudah hampir empat jam, namun juga belum sampai tujuan. Dalam pikiran saya, jika harus mengarungi sejam lagi mau tak mau harus menjadi bulan-bulanan karena mabuk laut. Perut sudah kembung diterpa angin laut, badan lemas. Pasrah sudah mencoba terlelap lagi setelah kapal berjalan. Tak sampai sejam, bahkan hanya sekitar 15 menit kapal sudah berhenti lagi. Dan ternyata sudah sampai di tujuan, yaitu pulau Panggang. Duh, sirna sudah derita menahan goncangan ombak ibu pertiwi. Alhamdulilah. Menurut pengakuan teman, ombak dalam perjalanannya tadi cukup lumayan. Hal ini terbukti dengan adanya penumpang di lantai dua, yang mabuk laut dan menjadi bulan-bulanan massa berebut untuk merekamnya. Saya pun tertawa jumawa, untung intuisi untuk pindah ke lambung kapal cukup menyelamatkan pamor di hadapan para rombongan. Hahaha.



“Ayo keluarin semuanya, kalau mabuk minuman dosa, kalo mabuk ini kan nggak dosa, ayo keluarin semuanya”.





Pulau Panggang sendiri memang bukan tujuan wisata bagi kebanyakan wisatawan, karena pulau ini adalah pulau dengan permukiman penduduk yang padat, nyaris tidak ada homestay atau pun penginapan di sini, semua didominasi oleh rumah-rumah penduduk. Dengan budget patungan per kepala Rp. 200.000 dengan jumlah rombongan lima orang dan salah satu sponsor yaitu bos di kantor, yang notabene adalah orang asli pulau Panggang. Beliau hidup dan tumbuh dewasa di pulau ini, sanak saudaranya pun juga masih berada di sini, hanya beberapa saudara saja yang merantau ke Jakarta. Perjalanan berbekal kekerabatan ini sungguh sangat menyenangkan, terlepas dari sekedar hubungan ekonomi antara wisatawan dan pelaku wisata, kami pun disambut bak keluarga sendiri yang jarang pulang. Segala hidangan pembuka serba ikan disodorkan secara lesehan, tak ketinggalan teh manis panasnya. Ah jadi nagih. Hahaha.

Setelah melepas lelah dan memulihkan tenaga dengan menyantap cemilan-cemilan dengan olahan bahan serba ikan lalu beristirahat sejenak sembari menunaikan ibadah sholat Dzuhur, lalu dilanjutkan dengan kegiatan snorkeling di beberapa spot yang menjadi favorit wisatawan. Sebenarnya untuk snorkling ini membutuhkan biaya yang cukup mahal, namun ya tadi, sekali lagi azas kekeluargaan melebihi apapun. Jadi ya bersyukurlah mempunyai banyak keluarga, saling mendoakan. Keindahan alam bawah laut Indonesia memang tak tergantikan, dan saya tidak akan bercerita banyak tentang hal ini. Nikmati saja sendiri nanti ya.










Di satu kesempatan sebelum bertolak dari pulau Panggang, saya sempatkan berbincang dengan warga setempat, namanya Pak Sarap, beliau sendiri adalah kakak kandung dari Pak Gozali, bos kantor saya. Perbincangan ringan mewarnai obrolan kami sembari menunggu teman antri menggunakan kamar mandi di rumah beliau, dari mulai kondisi pulau Panggang sendiri yang semakin padat, serta kesibukan beliau sebagai Polisi Pamong Praja di pulau ini hingga kondisi pulau Panggang pada waktu masa kecilnya beliau. Memang perkembangan zaman membawa dampak yang sangat signifikan menurut pengakuan beliau,, mulai dari kondisi lingkungan, pola mata pencaharian serta ekonomi. Cerita-cerita tentang kejayaan tentang rumput laut dan terumbu karang pun terlontar dari mulut beliau, celotehan mengenai tidak mengenal zaman moneter pun cukup membuat kami tertawa. 

Karna rata-rata dulu anak-anak kecil sudah dapat penghasilan dari pulang sekolah dengan membantu mengolah rumput laut. Rumput laut yang menjadi primadona di zamannya ini sudah di ekspor ke negara tetangga, namun kini pamornya menurun di pulau ini dan bahkan sudah tidak lagi banyak peminat baik dari petani maupun konsumennya. Begitu juga dengan nasib terumbu karang, yang dahulu juga diekplotasi dan dijual, kini setelah ada larangan dan kesadaran masyarakat mulai menjaga ekosistem bawah laut. Beberapa terumbu karang yang berada di spot snorkling sudah tidak asli lagi, alias sudah di kloning dengan batuan tertentu yang menyerupai terumbu karang, dan ditanam di bawah laut guna peremajaan ekosistem. Karena kita tahu, pertumbuhan karang itu tidak sebentar, namun butuh puluhan tahun.









Kemajuan pulau Panggang tidak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk menghadirkan energi listrik di sini infrastruktur kabel-kabel bawah laut. Kurang lebih kurun 10 tahun terakhir listrik sudah mengaliri kebutuhan warga di pulau ini. Sebelum ada listrik, warga mengandalkan genset, dan hanya hidup di malam hari dengan biaya patungan per rumah Rp. 3000 setiap harinya. Energi listrik dari PLN ini dikhususkan untuk masyarakat saja terkait dengan pulau dengan industri pariwisata menggunakan genset, namun ada juga sengketa terkait energi listrik ini, dimana pulau-pulau tertentu minta juga dialiri listrik. Saya sendiri baru tahu, bahwa di antara gugusan di Kepulauan Seribu ada beberapa pulau yang dimiliki pribadi, dan hanya ada di rezim pemerintahan tertentu. You know lah. Hehehe. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, beberapa masyarakat lokal menggunakan sistem Pemanen Air Hujan (PAH) yang menjadi alternatif solusi untuk membantu mencukupi kebutuhan air meskipun dengan kapasitas yang terbatas. Selain dikarenakan air tanah yang tidak dapat digunakan untuk kebutuhan minum dan kebutuhan sehari-hari, terpaksa mengandalkan air hujan maupun air galon untuk mencukupi kebutuhan.


Kesadaran akan kondisi lingkungan mulai digalakan, dengan adanya pembangunan infrastruktur IPAL (Instalasi Pembangunan Air Limbah) yang sedang berlangsung saat itu. Mengingat permukiman yang sangat padat, serta banyaknya limbah rumah tangga memang diperlukan infrastruktur yang menunjang untuk menjaga lingkungan serta ekosistem laut. Terkait dengan industri pariwisata Kepulauan Seribu yang digenjot oleh pemerintah menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga pulau. Dampak positif negatif tentu selalu ada, namun warga mencoba meminimalisir dengan rasa tenggang rasa dan terbuka menyikapi kehadiran pariwisata. Hampir kondisi perekonomian di pulau ini cukup merata, tidak terlihat kesenjangan ekonomi yang begitu mencolok, menurut Pak Saraf, hanya orang-orang yang malas dan tidak mau berusaha saja yang tidak tercukupi kebutuhannya, karna dari sudut pandang beliau bahwa laut sudah memberi sekedar dari lebih tinggal bagaimana orang menyikapi kondisi tersebut. Ada benarnya juga sih ya.  Terkait dengan kriminalitas pun hampir tidak ada, penjara yang berada di pulau Karya yang bersebelahan dengan pulau ini tidak ada yang menghuni. Ntaps!









Tak terasa obrolan ringan ini berlalu, banyak informasi dan pengalaman yang beliau bagikan kepada kami. Dan kami pun bergegas mengemas kembali barang-barang ke dalam ransel dan bersiap bertolak ke Jakarta lagi. Beliau berpesan untuk selalu siap siaga dan tidak panik jika berada di kapal, usahakan setiap orang pegang satu life jacket yang sudah disediakan di kapal walau pun tidak di pakai. Life jacket sendiri mampu bertahan selama tujuh hari mengapung di lautan, namun itu bisa lebih jika Orang Pulo yang memakainya, begitu kata Pak Sarap menyebut dirinya. Beliau berbagi petuah Orang Pulo kepada kami, “apapun yang terjadi jangan tinggalkan kapal”. Karna kalau ada apa-apa yang repot beliau juga, karna harus berusaha mencari mayat-mayat yang tenggelam terpisah jauh dari kapal. Bercandanya nggak seru. Hahaha. Tentu saja saya tak melewatkan kesempatan ini untuk menanyakan tips anti mabuk laut, dan dengan ringannya beliau menjawab, yang penting kena angin saja jangan di ruangan tertutup di dalam kapal. Sesederhana itu.


“Apapun yang terjadi jangan tinggalkan kapal”


Jabat tangan dan iringan doa serta ucapan terima kasih pun menjadi penanda akhir dari pertemuan kami. Kisah-kisah yang dibagikan beliau menjadi detail tersendiri bagi saya dalam perjalanan mengunjungi pulau ini, ada rasa keakraban yang terjalin. Ada benarnya juga, jika ada orang yang mau bercerita apapun kepada kita meskipun belum lama kenal adalah sebuah kebahagiaan tersendiri dalam sebuah perjalanan. Lalu bagaimana dengan teman anda yang sudah lama kenal? Apakah ia sudah berbagi cerita? Lupakan. Hail!

Scripta manent verba volent!



Di buang sayang (pura-pura tidur) :)

Aditxdreamers

Arghshitechcure Project adalah Sebuah kelompok diskusi kecil yang mencoba memaknai setiap jengkal langkah kehidupan melalui beragam sudut pandang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar